Oleh : Ade Lestari
“Patah hati itu egois, ia tak beritahu kapan ingin datang dan pergi. Sesuka hati bermain tanpa mempedulikan bahwa sepihak telah terluka.”
Nama aku Natasha Mila dan kalian bisa panggil aku Nana. Aku suka menulis puisi dan mencari tahu tentang cinta, namun urusan mencintai aku tidak pernah merasakannya.
Pagi hari pukul 05:55
“kukkuruyukkkkkk kukkuruyukkk” (setiap pagi suara fales ayam tetangga ku selalu terdengar)
“Kebiasaan deh ayam ini selalu berisik di pagi hari, bisa-bisa aku potong juga ntar.” Kesal ku
aku segera bergegas bersiap-siap menuju kesekolah karena hari ini ada ulangan matematika.
Sesampai di sekolah pukul 06:55 aku langsung menuju kelas ku tercinta.
“Nana…” ica memanggil ku
“ihh kamu pagi pagi udah kangen aku aja yah?”
“bukan aku yang kangen sama kamu,tapi ada dia yang lagi duduk di depan perpustakaan yang kangen sama kamu” ucap nya sambil tersenyum lebar
“siapa? Kamu jangan bercanda deh”
Tak lama kemudian aku segera menuju ke depan perpustakaan dan sialnya di sana ramai sekali sehingga aku tidak tau siapa yang Ica maksud, disisi lain aku juga berfikir kalau Ica hanya bercanda saja.
Aku kembali lagi kekelas dan ulangan matematika pun di mulai, 45 menit berjalan dan ulangan pun selesai. Aku mengumpulkan kertas jawaban ku pada pengawas, setelah itu aku merapikan meja belajar ku, tanpa sengaja ada kertas di atas meja ku dengan bertuliskan “Alex mengagumi mu By ica”. Aku tidak mempedulikan nya karena bagiku ica adalah sosok sahabat yang sangat suka bercanda.
Jam istirahat pun tiba, aku memilih untuk menonton pertandingan basket antar kelas. Aku duduk tidak terlalu jauh dari lapangan basket dan tidak lupa pula membawa satu buku untuk aku baca. Tiba tiba…
“hai Nana. Boleh duduk di samping kamu gak ?”
“ehh Alex ya? Boleh kok.. ohhiya gimana pertandingan basket mu? Duh aku gak nonton pertandingan kelas kamu hehe”
“kelas aku menang na. dan besok ada babak final nya.”
“wah selamat ya, aku udah duga kok kelas kalian bakalan menang”
“makasih ya Nana, duh aku gak bisa lama nih ada pertemuan untuk turnamen selanjutnya sekarang “
“iya lex gak apa-apa kok”
“see you!”
“see you too!”aku memilih untuk ke kelas setelah percakapan kami selesai.
Sampai
di kelas aku terdiam dan memikirkan saat istirahat tadi bagaikan mimpi ketika
Alex memilih duduk di sebelah ku dan padahal disekitar lapangan banyak sekali
tempat duduk kosong. Alex yang sangat famous di sekolah ini mengajak aku cewek
tercupu untuk mengobrol percakapan singkat. Hatiku senang tapi disisi lain aku
tidak ingin Geer karena mungkin saja Alex hanya iseng saja untuk duduk dan
mengobrol percakapan singkat dengan ku atau saja apa yang Ica sampaikan lewat
kertas kecil itu benar adanya.
Keesokan harinya saat disekolah aku menuju ke perpustakaan karena ada beberapa materi yang harus aku catat. Aku memilih kursi yang ada di pojok perpustakaan karena suasana yang hening sambil ku putar lagu back to you dengan headset pink yang ku bawa. Tanpa ku sadari suara musik yang ku dengarkan tiba tiba mengecil dan ternyata Alex mengambil headset kiri ku dan dia pasang pada telinga nya, sontak ku tak percaya. Ini yang kedua kalinya dan entah apa yang akan terjadi selanjutnya.
“aku juga suka lagu ini, walaupun sudah di sakiti berkali-kali akan tetapi penyanyi ini tetap setia dan kembali pada pasangan nya” ucapnya sambil menatap susunan buku rapi di hadapan nya.
“you stress me up, you kill me, you drag me down, you fuck me up.” aku dan Alex bernyanyi pada lirik yang sangat aku suka.
Aku tak menyangka bisa bernyanyi lagu ini bersama dengan Alex, menyanyikan lagu sebuah kesukaan, Ica sebagai sahabat ku saja tak pernah tau lagu kesukaan ku apa dan ini adalah pertama kali nya.
Sore hari pukul 15.30
Seperti biasa di sore hari ini aku ke Taman untuk melanjutkan menulis sebuah puisi. Menulis sebuah puisi adalah salah satu hobi ku, karena hanya dengan puisi aku bisa mencurahkan seluruh apa yang aku rasakan. Pena ku menari pada sebuah kertas, pemikiran ku terfokus pada sebait demi sebait puisi.
Hampa
Oleh : Nana
Aku terduduk menatap kepergian mu
Tak sehari pun aku menyesal
Pada melodi rintihan aku telah mencintai mu sebaik ini
Sehingga menjadi sesak yang tak terduga.
Rindu mungkin saja
Menggebu menjadi lantunan yang sirna
Samar yang kurasa
Menatap jendela kosong berdebu
Kau indah, namun gelap sudah tak nampak
Setapak jalan bak bukti kasih
Sebagai lembaran bukti yang terbuang
Tentang kamu pengusai rasa.
Oleh : Nana
Aku terduduk menatap kepergian mu
Tak sehari pun aku menyesal
Pada melodi rintihan aku telah mencintai mu sebaik ini
Sehingga menjadi sesak yang tak terduga.
Rindu mungkin saja
Menggebu menjadi lantunan yang sirna
Samar yang kurasa
Menatap jendela kosong berdebu
Kau indah, namun gelap sudah tak nampak
Setapak jalan bak bukti kasih
Sebagai lembaran bukti yang terbuang
Tentang kamu pengusai rasa.
“puisi
yang indah, sangat mewakili perasaan” suara seorang laki laki yang tak asing
terdengar, seketika aku memberhentikan tangan ku menulis.
“Alex. Kok kamu disini ?”
“Aku hanya sekedar berjalan-jalan di taman ini, kamu hobi menulis puisi yah ? puisi yang kamu bikin itu bagus banget”
“Alex. Kok kamu disini ?”
“Aku hanya sekedar berjalan-jalan di taman ini, kamu hobi menulis puisi yah ? puisi yang kamu bikin itu bagus banget”
“Iya aku suka nulis puisi, soalnya aku biasa mengutarakan apa yang aku rasain itu lewat puisi,”
“ternyata karya mu jauh lebih indah” Alex pun tersenyum kecil
Aku dan Alex mengobrol dengan asiknya, sampai aku lupa bahwa tujuan aku ke taman adalah untuk menulis puisi.
dan beberapa saat kemudian...
“waaah balon nya baguss bangettt” Tiba tiba ada balon berwarna-warni datang dan membawakan kertas yang di ayun nya.
HAI NANA, AKU MENGAGUMI MU. KAMU MAU GAK JADI PACAR AKU.
“Alex?”
“iya nana. Kamu mau gak jadi pacar aku, jadi maksud aku mendekat akhir-akhir ini ya pengen kenal kamu lebih jauh. Bagi aku kamu sangat beda dan tidak sama dari yang lainnya.aku sudah sangat lama mengagumimu, dan ini adalah keberanian terhebat ku mengungkapkan nya. ” Alex pun mengarahkan pandangan nya padaku
“tapi aku belum pernah jatuh cinta”
“terserah kamu Nana , soal perasaan ya atau tidak itu bukan urusan ku. Aku hanya ingin mengenalmu, memiliki waktu untuk bersama mu lebih lama”
“Alex aku terima jika kamu sungguh akan perasaan kamu”
Singkat cerita..
Selama bersama Alex aku sangat merasakan kenyamanan, tak satu hari pun kita lalui dengan pertengkaran. Alex sosok yang sangat mengerti, menjaga ku dengan sepenuh hati dan gak akan rela kalau ada yang berani menyakitiku. Ini pertama kali nya aku jatuh cinta, rasa terhebat di dalam hidup ku, aku telah berjanji untuk menjaga Alex sepenuh hati, tak akan membiarkan dia bersedih atau bahkan hanya sekedar menunggu. Selama ini Alex selalu memberikan hadiah kecil, mulai dari buku, boneka, bunga, cake dan lainnya.
Dan 1 tahun pun berlalu..
Pertandingan basket antar sekolah se DKI Jakarta akan dimulai, dan disitu ada Alex yang masuk di Tim sekolah. Namun sayangnya sore ini aku ada acara pertemuan buku yang di adakan oleh Gramedia. Sebisa mungkin akan aku sempatkan waktu untuk menonton Alex.
Namun aku telat, aku datang menonton pertandingan yaitu saat pertandingan telah selesai. Aku bergegas mencari Alex, disudut lapangan aku lihat Alex dan Ica sedang duduk berdua. Aku sangat merasa bersalah,karena ini adalah untuk pertama kalinya aku gak hadir dalam acara pertandingan basket Alex.
“Alex sorry banget, aku telat”
“Iya” jawabnya singkat, bahkan untuk melihat wajahku saja enggan.
karena seolah tidak di hiraukan, aku memilih untuk meninggalkan lapangan.
Malam hari pukul 22:30 aku mendapatkan pesan singkat dari Alex
“esok temui aku di taman sekolah”.
Aku bingung kenapa Alex tiba tiba ingin bertemu denganku esok dan biasanya jika dia ingin bertemu dia langsung kekelas ku, tidak perlu izin seperti ini. Malam ini aku terbayang oleh banyak pertanyaan, memikirkan Alex karena ini adalah pertama kalinya dia bersikap acuh.
Keesokan harinya aku ketaman, dan disana ada Ica yang duduk bersama Alex.
“Alex kenapa sih gak biasanya kamu kalau mau ketemu aku izin dulu” aku tertawa kecil sambil mencubit alex
“Aku mau kita putus, maaf aku gak bisa lanjuttin hubungan ini sama kamu lagi”
“kenapa Alex,kenapa?” sontak air mata ku terjatuh
“ aku sudah memilih Ica” jawabnya singkat
“ica,maksud kamu apa? kamu teman aku selama ini, kamu yang kasihtau ke aku lewat kertas kecil dulu kalau Alex suka sama aku, kenapa jadi gini ica!!!”
“maaf Nana, aku mengagumi Alex” ica pun tertunduk
“Alex Ica jadi ini maksud kalian? Semua sudah jelas “ aku pergi meninggalkan taman itu, berlari tanpa mempedulikan air mata ku jatuh
Aku masih tak mengerti apa yang sedang terjadi, Patah hati itu egois, ia tak beritahu kapan ingin datang dan pergi. Sesuka hati bermain tanpa mempedulikan bahwa sepihak telah terluka. Entah apa yang membuat Alex meninggalkan ku, padahal selama berpacaran tak sehari pun di lalui oleh kesedihan, namun mengapa sekarang rasanya sangat pahit. Alex memilih sebagai pengusai rasa dan aku yang berusaha mempertahankan, Alex memilih untuk menjadi Asing walaupun dulu kami pernah berjuang saling membahagiakan, Setelah ini aku benci jatuh cinta.
No comments:
Post a Comment