Friday, 15 September 2017

Cerpen (Menunggu)

MENUNGGU


Oleh : Ade Lestari

“Sepinya malam ku hiasi sebait demi sebait harapan yang ku tulis dengan pena, namun terkadang aku merasa kalau harapan itu adalah maya dalam kalbu yang ku ciptakan tanpa nada”

Sepoi angin nan sejuk memberikan isyarat terhadapku kepada pembaca bahwa aku harus memperkenalkan diriku.

Namaku Anisa Dyandra, kalian cukup memanggilku dengan sebutan Nisa. Nama yang sangat sederhana namun memberikan arti luas dalam pandangan ku. Ya Anisa adalah wanita, menurut ku kebanyakan insan menganggap bahwa wanita adalah makhluk lemah, perkiraan yang sungguh tidak lazim bagiku. Wanita adalah makhluk yang sangat tinggi derajatnya dan wajib di hormati, wanita memiliki kekuatan yang tidak dimiliki oleh kaum adam, wanita memiliki perasaan nan lembut bagai kapas sehingga jikalau wanita menyimpan emosi nya ia hanya mampu meluapkan itu semua dalam air mata *edisi baper. Oke lanjut, aku kelas 3 SMA yaaa aku tahu kelas 3 adalah masa terberat bagi para pelajar, seberat perasaan aku meninggalkan dia *ehhh kok jadi kesini.

“Nisaaaaaaaaa, ya ampun kebo banget si kamu nak, liat matahari udah segede panci eh maksud emak segede apaan yak audah kaga tau”
“astaga mak, iya Nisa tau”
“Ya bangun jangan molor terus, lu kata ini masih malem”
“ettdah, iye mak iyee”

Aku bergegas mempersiapkan diri untuk pergi kesekolah. Yaa hari ini aku kesiangan lagi entah sampai kapan aku akan bisa bangun lebih cepat dari ayam di samping rumah ku, mungkin saja ini karena aku yang selalu tertidur lama ketika malam hari. Kecepatan kilat yang ku lakukan (mandi 2 menit, makan 2 menit dan lain lain 5 menit) hingga akhirnya aku siap bergegas kesekolah, sampai aku lupa kalau hari ini adalah hari senin namun aku berpakaian pramuka. Tidak berpikir panjang aku langsung menggantinya dengan seragam putih abu.

Sesampai disekolah adalah hal sangat menyenangkan bagiku. Disini aku dapat bertemu dengan teman teman ku yang memiliki beranekaragam sifat, ada yang baik, ada yang jahat bagaikan tokoh bawang merah (gak gitu  juga kok), menyebalkan, ada pula yang hobi tertawa walaupun tidak ada hal lucu yang sedang terjadi. Aku sangat bahagia memiliki mereka dan terkadang aku selalu berfikir bahwa aku takkan pernah ingin meninggalkan teman-teman ku.

Sebelum melanjutkan ke kisah abstrak hidupku, aku ingin bercerita sedikit tentang sebuah pengalaman yang pernah singgah di hati.
Berawal dari tatap indah senyum mu memikat, memikat hatiku yang hampa lara *ehhh kok malah nyanyi. Lanjut yaa, di dalam kesendirian ku disini aku mengagumi dia. Aku sangat kagum akan sikap sederhana serta cara dia menganggap aku sebagai temannya. Menurut ku ketika kita sedang jatuh cinta, kita tidak perlu menganggap nya menjadi hal yang harus kita miliki karena cukup melihatnya dari jauh adalah suatu keindahan yang secara tidak langsung membuat hatiku tenang. Namanya Alfa. Aku mengagumi nya sejak pertama kali aku bertemu dengan nya mulai dari kelas 1 SMA sampai saat ini, menurut ku dia tidak mengetahui akan perasaan sederhana ku ini.

“Nisaaaaaa” (teman ku berteriak dengan menggunakan toa).
“Ehh apaan si, lu kata kuping nisa kuping gajah”
“Hehehe maap ye, ohya tadi gue ngeliat si Alfa di kerubutin ama cewe cewe, ettdah udah kayak semut kelaperan yang nemuin madu”
“Ahh lebay deh, Nisa gak apa apa kok. Lagi pula mungkin karena Alfa adalah orang yang penting dan memiliki tanggung jawab yaa aku gak bisa marah” (ucapku dengan nada datar)
“yeee lu mah kan demen ama dia, tapi kok kaga ada usaha sih”
“sudahlah aku akan menunggu. Yasudah yuk balik ke kelas”

Aku memang sudah mengaguminya sangat lama, namun disini aku tidak bisa memberikan seperti kode perasaan ataupun sedikit usaha ku agar dia bisa mengagumi ku juga. aku tahu ini hal yang tak wajar, perasaan yang datang tiba-tiba tanpa kusadari. Dia sangat mampu membuat ku kagum atas semua yang dia lakukan walaupun itu bukan untukku.

Di kelas aku menerima pelajaran dengan baik layaknya hari-hari biasa. Ku lalui hari dengan penuh semangat tanpa memikirkan beban apapun, walaupun kusadari tugas ku sangat banyak, jika bisa diperhitungkan mungkin saja tugas ku sudah numpuk kayak cucian dirumah yang belum aku sentuh sama sekali.

Sore ini adalah tugas ku menulis, bukan menulis dengan menggunakan pena yaa tapi menulis dengan sebuah laptop yang dimana pikiran dan perasaan ku tuangkan kedalam Microsoft word. Menulis adalah salah satu hobi ku karena menurut ku dengan menulis kita bisa mencurahkan apa yang kita rasakan dan jemari ini akan berjalan dengan sendiri untuk menyusun kata demi kata hingga menjadi kalimat yang indah. Selain itu aku juga sangat suka bernyanyi, mungkin karena dengan sebuah lagu adalah cara alternative ku meluapkan apa yang kurasakan setelah menulis tadi. Well, jam 15:30 biasanya aku ke taman yang tidak jauh dari rumah ku, aku kesana biasanya sendiri (namanya juga jomblo). Saat aku sedang mengetik cerpen tiba tiba…..

“Nisaaaaaa…” (suara yang tidak asing bagiku terdengar mendekat)
“iyaaa”
“aku punya kabar yang mungkin akan membuat kamu sangat sedih”
“ada apa? Apa yang terjadi?” (aku menatap mata alma, yang dimana Alma juga menampakkan wajah nya yang serius)
“Alif Ba Ta Tsa,, ehh maksud aku Alfa nis. Aduhhh kamu jangan lama lama disini deh. Ikut aku”
Alma menarik tangan ku menuju tempat yang tidak jauh dari Taman. Segera ku rapikan perlengkapan ku dan memasukkan nya ke dalam tas yang ku bawa. Sungguh aku tidak mengetahui apa yang terjadi terhadap Alfa. Tidak lama kemudian aku dan Alma sampai di tempat Alfa berada. Sontak ku, aku tak percaya ini atau mungkin ini hanyalah penglihatan ku yang salah. Wanita itu siapa? Bunga untuk siapa yang Alfa genggam? (ucapku dalam hati)

“Alma ? wanita yang  rangkul Alfa itu siapa ? (tanyaku dengan air mata yang terjatuh di pipi)
“Dia Diana, nampaknya Alfa mengagumi Diana”
“Aku yakin setelah ini aku akan baik-baik saja” (sambil menangis, aku pergi meninggalkan tempat tersebut)

Alfa. Usai sudah aku memang tak berhak marah dan kecewa. Ku yakini hatiku baik baik saja. Aku mengagumi selama 3 tahun dan sedikitpun kamu tidak tahu akan perasaan ku. Aku yang menyimpan payung di meja mu ketika hujan tiba, aku yang menyimpan makanan ketika kamu pulang telat karena ada jam tambahan, aku yang menyimpan sapu tangan ketika kamu usai bermain basket. Aku tahu itu semua tak ternilai sedikitpun tapi biarlah asal kau bahagia.

Keesokan harinya aku sudah sedikit lebih tenang di banding kemarin walaupun aku masih teringat tentang perasaan yang ku pendam selama 3 tahun. Saat jam istirahat seperti biasa aku duduk di teras kelas melanjutkan karya ku yang sempat terputus. Hari ini aku tidak sama sekali melihat Alfa mungkin saja dia sakit atau ada urusan osis yang tak ingin ku ketahui lagi.

“hai?” (suara yang tak asing bagiku)
“iya?” (aku menoleh menuju suara datar yang melintas di telingaku)
Demi apa ? Alfa menyapa ku dengan Hai. Entah apa yang aku mimpikan semalam. Ini adalah kebahagiaan terbesar setelah kesedihan terberat terjadi di dalam hati ku.
 “bisa aku bicara sebentar dengan mu? Apakah kamu sibuk ?”
“ya Alfa, tentu saja bisa.. hmm tidak sibuk kok”
“baiklah.. aku telah mengetahui semua akan perasaan mu”
“kamu tahu darimana ? aku benar-benar menyembunyikan nya selama 3 tahun ini,
bahkan usaha ku untuk memperlihatkan kepada mu sama sekali tak ku lakukan” (tunduk ku tak berani menatap binaran kedua mata Alfa)

“setelah kejadian sore itu aku tahu kau sangat bersedih,  malam nya saat hujan deras Alma datang kerumah ku dan menjelaskan semua akan perasaan mu. Aku tahu kamu yang menyimpan payung di meja ku ketika hujan tiba, kamu yang menyimpan makanan ketika aku pulang telat karena ada jam tambahan, dan kamu yang menyimpan sapu tangan ketika aku usai bermain basket. Maafkan aku..” (jelas Alfa memegang tangan kecil ku).

“hentikan Alfa! Aku tak mau mendengar nya lagi! Kau adalah patah hati terberat bagiku” (aku berlari menuju kelas dengan air mata yang jatuh pipi)
Sepulang sekolah pun tiba….
aku berjalan menuju parkiran sekolah, sontak ku melihat surat yang ada di atas motor ku yang bertuliskan
“ NANTI SORE TEMUI AKU DI TAMAN, AKU INGIN BICARA. BY : ALFA”
 
Maksudnya apa coba, sudah membuat hatiku sakit apa masih ada yang harus di bicarakan lagi (ucapku dalam hati)

Jam 15:30 tiba, aku segera menemui Alfa di Taman. Alfa terduduk di kursi taman dan memegang bunga yang kemarin Alfa bawa untuk Diana, aku menghampiri alfa dan tak berkata apapun. Alfa langsung memegang tangan ku dan berkata.

“Hai Nisa, aku sangat mengagumi mu selama 3 tahun. Mungkin kau tak mengetahui nya, disini aku tahu kau yang menyimpan sapu tangan, makanan dan payung selama 3 tahun untuk ku, sungguh kau tak tahu bahwa di kelas ku ada CCTV jadi aku mengetahui semuanya” (jelas nya)
“Mampus, bego banget aku. Kelas nya Alfa kan punya CCTV. Jadi pas aku cium keringet baju Alfa sambil joget-joget juga kelihatan CCTV dong” (ucapku dalam hati)
“Asal kau tahu, kemarin Diana datang kepada ku dan mengungkapkan perasaan nya, sore itu aku ingin menemuimu dan memberikan bunga ini. Tapi nampaknya kamu sudah pulang dari taman yang biasa kau singgahi setiap sore. Aku tak mengagumi Diana. Aku tulus mencintaimu. Inilah saat yang tepat untuk kau tahu. Nisa bisakah kau menerima ku menjadi seorang yang akan singgah di hatimu? (sambil memberikan bunga dan menatap mataku)
“tentu Alfa, selama ini KAU YANG KU TUNGGU(senyumku)


menunggu memang kadang menyakitkan, namun siapa sangka bahwa dengan menunggu Tuhan akan memberikan waktu yang tepat untuk kita bersama


SELESAI..





No comments:

Post a Comment

Puisi (Terhadap Hal Yang Belum Bisa di Paksakan)

Terhadap hal yang belum bisa di paksakan Oleh : Ade Lestari Terhadap hal yang belum bisa di paksakan Aku mengerti akan hal yang terjad...